Mon, 06 September 2010  
 

Sekretariat DPN

Jln. Buncit Raya 9B Jakarta Selatan 12740, Indonesia
Phone : 021-791 90885
Fax : 021-799 3064
Email : partai.karyaperjuangan@yahoo.co.id

Pakarpangan Facebook PakarPangan  
Twitter Twitter Pakarpangan    

 
 
 

Pengurus DPN


Letnan Jenderal TNI(Purn)
H. Muhammad Yasin
Ketua Umum

J. A. Kumaat
Sekretaris jenderal

Dwinita Feby Purnamayanti, SE
Bendahara Umum

Donny R. Lumingas
Ketua I
Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan

Nikson Gans Lalu, SH, MH
Ketua II
Bidang Politik dan Pemenangan Pemilu

Mayjend TNI (Purn). Mulya Setiawan
Ketua III
Bidang Dalam Negeri dan Pengembangan Otda

Koesnadi Kardi, MSc. Rcds
Ketua IV
Bidang Hankam dan Kebijakan Luar Negeri

Erick Paat, SH.
Ketua V
Bidang Kesra, Hukum, dan Hak Azazi Manusia

Fanny Srikandini
Ketua VI
Bidang Pemberdayaan Perempuan

Lucky Runtuwene, SE.
Ketua VII
Bidang Informasi dan Komunikasi

Hasbullah
Ketua VIII
Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

-
Ketua IX
Bidang Ekonomi

Tris Suryawan. A
Ketua X
Bidang Kepemudaan
 
 
 
 
 
 

Mars Pakar Pangan

 

Kumaat: Pemerintah Harus Jujur Asal BLT (http://www.hariankomentar.com)

Tanggal : 15 Jun 2009

Jakarta, KOMENTAR
Partai Karya Perjuangan (Pa-kar Pangan) menyesalkan tin-dakan pemerintahan SBY-JK, yang diduga menggunakan utang luar negeri untuk dana Bantuan Tunai Langsung (BLT) kepada masyarakat miskin. Presiden Susilo Bambang Yu-dhoyono (SBY) juga dianggap melakukan kebohongan publik, karena selama ini menyatakan sumber dana BLT berasal dari
pengurangan subsidi BBM (bahan bakar minyak).
“Upaya program untuk meng-hilangkan kemiskinan yang digembar-gemborkan itu, jus-tru akan menambah angka ke-miskinan lagi, bahkan generasi masa depan harus menang-gung utang,” kata Sekjen Pa-kar Pangan Jackson Kumaat via telepon semalam (14/06).
Ia mengatakan hal itu, me-nanggapi pernyataan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Anwar Nasution di MPR/DPR Selasa (09/06), bahwa dana BLT untuk rakyat, ter-nyata dari pinjaman asing dengan bunga antara 12 hingga 13 persen.
Bantuan langsung tunai ini antara lain untuk Program Nasional Pemberdayaan Ma-syarakat (PNPM) Mandiri, yang dananya berasal dari Bank Dunia. Utang itu, kata Jack-son, termasuk utang komersial karena bunganya mencapai 12 hingga 13 persen dan bukan pinjaman lunak dari lembaga internasional, yang rata-rata bunganya hanya sekitar 4 hingga 6 persen. “Pemerintah harus menjelaskan dengan jujur, dari mana sumber dana BLT,” katanya.
Menurut Jackson, utang luar negeri di masa pemerintahan SBY-JK dari tahun 2004-2009 ini mencapai Rp 400 triliun. “Kami prihatin, uang BLT ternyata dari utang luar negeri dengan bunga yang sangat besar,” kata Jackson yang juga anggota tim sukses Mega-Prabowo.
Lebih lanjut ia mengung-kapkan, program BLT yang diambil dari dana pinjaman luar negeri, di masa menda-tang jumlahnya makin besar karena bunganya secara tak langsung akan dibebankan kepada rakyat. “Ini bukan me-ngentaskan kemiskinan, tapi malah menambah kemiskinan khususnya bagi generasi di masa mendatang,” ujar dia prihatin.
Jackson juga menyatakan, program BLT yang dilakukan pemerintahan saat ini, dinilai sebagai pembodohan dan menambah kemiskinan. “Ja-ngan sampai bangsa Indone-sia masuk ke jurang kemis-kinan. Ini adalah musuh kita bersama,” tegasnya lagi.
Sejak awal program BLT telah mengundang kontro-versi. Ketika pemerintah me-naikkan harga bahan bakar minyak dua kali pada Maret dan Oktober 2005, jaring pengaman pun dibuat sebagai kompensasi untuk warga miskin lewat program BLT. Sekitar 19,1 juta kepala ke-luarga diberi uang Rp 100 ri-bu per bulan selama setahun.
Namun, pelaksanaan pro-gram itu tidak berjalan mulus. Bukan hanya dananya ba-nyak yang tidak utuh sampai ke tangan warga miskin, melainkan juga telah me-minta korban jiwa karena kelelahan mengantri atau terinjak-injak.
“Program BLT juga dinilai tidak mendidik masyarakat dan hanya mengentalkan mental pengemis warga mis-kin. Pemerintah dituding hanya menyodorkan ikan, bukan kail. Rakyat miskin tidak diberdayakan agar mampu keluar dari kemis-kinan,” tandas Jackson.
Meski kritik bermunculan dan hasil survei menyebutkan bahwa efektivitas BLT hanya sekitar 55 persen, pemerintah tetap saja ‘ngotot’ menggu-lirkan BLT. Untuk tahun ini saja, program yang kini ber-nama BLT plus—karena selain uang warga miskin juga memperoleh gula dan minyak goreng— pemerintah menye-diakan anggaran hingga Rp 28 triliun.
Berdasarkan catatan re-daksi, tidak efektifnya pro-gram BLT juga bisa dilihat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Meski APBN 2009 jauh me-ningkat hingga Rp 1.034 triliun dari sebelumnya Rp 380 triliun pada 2004, ang-garan untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan juga ikut naik tajam. Bila pada 2004 anggaran kemis-kinan baru mencapai Rp 18 triliun, pada 2008 melompat hingga Rp 70 triliun. Itu sama artinya, jumlah orang miskin dan pengangguran kian bertambah.
Namun, pernyataan Anwar Nasution dibantah oleh Tim Sukses Pasangan SBY-Boe-diono, M Chatib Basri. “Per-nyataan itu tidak benar. BLT itu datangnya dari subsidi BBM. Tidak benar bahwa BLT itu dari utang negara,” kata Chatib.(eky)