
Bahasa Indonesia Penyelamat Bangsa (http://antara.co.id)
Tanggal : 30 Oct 2008
Ada semacam pengakuan baru yang terucapkan dalam kongres kesembilan
bahasa Indonesia 28 Oktober 2008, di Jakarta ketika Menteri Pendidikan
Nasional Bambang Sudibyo mengungkap sebuah kenyataan bahwa bahasa
Indonesia ternyata telah menyelamatkan Negara Kesatuan Republik
Indonesia dari ancaman perpecahan.
Ketika dia membuka kongres bahasa Indonesia hari Selasa yang dihadiri
lebih kurang seribu peserta dari seluruh Indonesia itu, Bambang Sudibyo
menuturkan peristiwa ketika dia menjabat menteri keuangan pada tahun
2000. Indonesia kala itu hiruk pikuk lantaran diberlakukannya sistem
desentralisasi pemerintahan.
Otonomi daerah lalu diberlakukan menyusul runtuhnya Orde Baru dan
dimulainya abad Reformasi untuk mencari solusi meningkatkan
kesejahteraan rakyat sampai ke pelosok.
Maka, daerah provinsi kaya raya menuntut Pemerintah Pusat untuk
memberikan kewenangan mengurus keuangannya sendiri, sebab daerah kaya
itu ternyata telah jatuh miskin lantaran hasil bumi terbesar daerah itu
sudah dikuras dan disumbangkan kepada Pemerintah Pusat.
Yang paling menonjol dalam hiruk-pikuk dan ingar-bingar tuntutan
otonomi daerah itu adalah Provinsi Riau dan Kalimantan Timur, dua
daerah di Indonesia yang dikenal kaya akan minyak dan gas bumi. Rakyat
Provinsi Riau bahkan mengancam akan memisahkan diri dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia jika tuntutan mereka tidak dikabulkan.
Yang terjadi kemudian, kata Bambang Sudibyo, rakyat Riau tiba-tiba
sadar dan kemudian membatalkan niatnya untuk merdeka. "Rakyat Riau
sadar dan tidak mau lagi merdeka karena sumbangan terbesar mereka untuk
pembangunan bangsa ini ternyata bukan minyak dan gas bumi. Sumbangan
terbesar Riau untuk bangsa ini adalah bahasa Indonesia," kata Menteri.
Riau yang kecil mungil karena hanya merupakan bagian minoritas dari
keberagaman suku dan budaya di Indonesia telah memberikan andil paling
besar untuk menyelamatkan bangsa ini dari perpecahan.
Sejarah telah menggoreskan bukti bahwa bahasa Indonesia yang diikrarkan
pada 28 Oktober 1928 sebagai bahasa persatuan tiada lain adalah bahasa
Melayu Riau, kata Bambang Sudibyo.
Meski suku terbesar dan bahasanya diucapkan oleh lebih dari setengah
penduduk Indonesia kala itu, suku Jawa ternyata dengan sukarela
menerima bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia. Sejak itu
dalam pendidikan, politik dan budaya, dan apalagi perdagangan semuanya
menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar.
Delapan puluh tahun yang lalu, 28 Oktober 1928, para pemuda dan pemudi
dari berbagai suku dan golongan di Nusantara mengucapkan sumpahnya yang
dikenal dengan Soempah Pemoeda. Mereka mengaku bertumpah darah satu
tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan menjunjung
bahasa persatuan bahasa Indonesia.
Sumpah pemuda itulah yang menginspirasi slogan terkenal Bhinneka
Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi satu), bahkan dari situ pula cikal
bakal kelahiran falsafah bangsa yakni Pancasila.
Maka terbentuklah pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa yang merdeka
bernama Indonesia, lepas dari cengkeraman penjajahan Belanda di tanah
Nusantara selama tiga setengah abad lamanya. Negara Indonesia diikat
dengan bahasa Indonesia dari Sabang di Pulau Weh sampai Merauke di
ujung barat Pulau Irian (bagian barat).
Sudah lebih dari 60 tahun Indonesia merdeka, dan pergolakan bangsa
terjadi silih berganti. Pertikaian politik bahkan hampir saja
menghancurkan negara, dan karut-marut perekonomian yang menjerumuskan
rakyat ke jurang kemiskinan justru berulang pada akhir Orde Baru,
tetapi bahasa tetap menjadi pengikat persatuan untuk tidak memecahkan
NKRI.
Untuk lebih menggalakkan penggunaan bahasa Indonesia yang benar, dalam
acara pembukaan kongres kesembilan bahasa Indonesia itu, Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan memberikan penghargaan kepada tokoh berbahasa
lisan terbaik di bidang seni, dan politik.
Ada lima tokoh terkenal yang mendapat penghargaan itu, yakni Maudy
Kusnaedi (artis sinetron dan pemain film), Prof. Dr.Din Samsyudin
(MUI), Anas Urbaningrum (politisi muda).
Dua tokoh perempuan yang juga dinilai sebagai tokoh berbahasa lisan
terbaik adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan Prof Dr. Meutia Hatta,
dan Menteri Perdagangan Dr Mari Pangestu.
Bambang Sudibyo, ketika membuka kongres itu kelihatan serius membacakan
pidato tertulisnya, tetapi sempat juga membuat peserta yang
mendengarkannya terbahak-bahak ketika dia memulai berbicara di atas
panggung di ruang besar Gedung Bidakara.
"Saya harus membacakan pidato anak buah saya. Pidato tertulis ini
dibuat oleh Kepala Pusat Bahasa (Dr. Dendy Sugono, red). Seorang
menteri tak akan punya banyak waktu kalau setiap ada acara harus
disuruh membuat pidato," katanya.
Sebelum para peserta kongres itu berhenti tertawa, Menteri Pendidikan
Sudibyo melanjutkan, "Kalau nanti mata saya melihat ke bawah, itu
artinya saya sedang membacakan pidato Kepala Pusat Bahasa. Tetapi kalau
saya berbicara tanpa melihat teks ini maka itu berarti saya sedang
menyampaikan pidato dari dari hati nurani saya yang tulus," katanya
disambut gelak tawa.
Maka sebelum tanpa melirik teks tertulis di depannya, Bambang memulai
pidato pembukaan kongres itu dengan pengakuan bahwa soal kebahasaan
adalah masalah paling fundametal dan sangat sentral dalam kehidupan
manusia. Bahkan dalam kitab suci Alquran pun soal bahasa itu dikaitkan
dengan penciptaan manusia, katanya.
Tuhan lalu mengajari manusia Adam ciptaannya untuk memberikan nama pada
segala sesuatu yang dilihatnya satu demi satu. Itu sebabnya kedudukan
bahasa sangat fundamental dalam kehidupan manusia. "Bayangkan kalau
manusia itu tidak dapat berbahasa," katanya.
Ketika Tuhan memerintahkan Nabi dengan perkataan "bacalah" maka itu
berarti manusia diperintahkan untuk membaca dan menulis. Itu artinya
manusia harus dapat berbahasa. Tidak ada pengalaman dan pengetahuan
akan dipelajari tanpa bahasa. Ilmu apa pun hanya dapat dipelajari
dengan kompetensi bahasa, katanya.
Pernyataan Menteri Bambang Sudibyo dalam pembukaan kongres itu
tampaknya selaras dengan perkataan yang ditulis oleh budayawan dan
rohaniman Romo YB Mangunwijaya (almarhum) tentang Pendidikan Manusia
Merdeka yang dimuat di dalam harian Kompas pada 11 Agustus 1992.
Berkata beliau, mengapa Soekarno-Hatta dan generasi mereka waktu masih
mahasiswa kok sudah begitu cemerlang pandai, penuh keyakinan diri, dan
mampu meyakinkan para kuasa dalam pentas perjuangan membela rakyat
tertindas, bila dibandingkan dengan mahasiswa sekarang dengan usia dan
kedudukan yang sama?
Jauh dari kemanjaan borjuis dan mental priyayi mapan yang sudah puas
dengan kenikmatan diri? Padahal generasi dulu jelas hasil iklim
masyarakat terjajah dengan program-program sekolah dan budaya
pendidikan yang kolonial?
Mestinya para putra-putri Indonesia yang sudah merdeka setengah abad,
pada usia yang sama, ya mestinya jauh lebih cemerlang daripada
pendahulu mereka. Adam Malik hanya berijazah SD.
Begitu juga Kartini. Ki Hajar Dewantoro dan Jenderal Sudirman belum
pernah jadi mahasiswa. Sutan Syahrir, perdana menteri, hanya "drop-out"
universitas tingkat satu (karena ditugasi Mohammad Hatta yang masih
mahasiswa juga, untuk pulang ke Tanah Air memimpin perjuangan).
Manusia itu punya bahasa. Pada hakikatnya manusia itu adalah bahasa
juga. Isi dan kualitas bahkan modal kemajuannya terletak pada
bahasanya. Bahasa dalam arti total, komuknikasi, ekspresi dan daya
tangkap dalam macam-macam wujud. Manusia tidak hanya berkomunikasi atau
mengkomunikasi, tetapi dia dalam dirinya sendiri sudah berkomunikasi.
Ini sangat tampak dalam diri bayi "yang belum bisa apa-apa", tetapi
mampu membahagiakan ibu dan ayahnya, "pure by being there" melulu
berkat kehadiran murninya.
Maka dari awal mula bukan daya rasional, apalagi matematika atau fisika
(baca:rasio analitis abstrak) yang primer berinteraksi antara bayi dan
ibunya dan ayahnya (baca: manusia-manusia), melainkan bahasa. Maka
tidak sulit dipahami, bahwa dalam setiap proses interaksi antar-manusia
seyogianya penguasaan bahasalah diutamakan.
Dengan kata lain, seni berkomunikasilah yang primer. Di segala jurusan,
matematika, fisika, kimia, sebenarnya sebentuk bahasa juga. Lapangan
eksakta dengan segala keterampilannya hanya mungkin bermekar pada tanah
tumbuh budaya bahasa yang tinggi.
Menurut Menteri Bambang Sudibyo, bahasa akan memberikan manusia
kecerdasan total, sedangkan matematika hanya dapat mencerdaskan otak
manusia sebelah kiri, tetapi matematika itu sendiri tak akan mungkin
dibaca atau diuraikan tanpa bahasa. Itu sebabnya Indonesia ini dinilai
Bambang sebagai bangsa yang hebat.
Apa yang hebat? Di antara negara berkembang dan berpenduduk paling
besar di dunia, Indonesia telah membuktikan dirinya sukses dalam
membangun demokratisasi sejak tahun 1998, dan itu dianggapnya sebagai
satu lompatan ke depan. "Meskipun itu masih ada saja kekurangan,"
katanya.
Ekonomi kini kembali terancam gejolak seperti yang terjadi pada tahun
1997, tampaknya "karena kita kurang berjuang dalam membenahi ekonomi,
dan karena kita kurang serius dalam berbahasa," katanya. Sekarang telah
terbukti bahwa "penyelamat bangsa Indonesia" tiada lain adalah bahasa
Indonesia itu.(*) (Oleh I. Umbu Rey)

18 Aug 2010